Bank Sentral Singapura Mungkin Ingin Menghindari Penurunan Rupee

Bank Sentral Singapura Mungkin Ingin Menghindari Penurunan Rupee

Investasi

Pada penutupan bisnis di Singapura, Rupiah telah sedikit melemah ke level Rp16.339 per Dolar AS. Dengan demikian, diharapkan akan ada lebih banyak penurunan di masa depan. Saat ini, pelemahan Rupiah mungkin menandakan periode pelemahan yang panjang. Salah satu cara untuk melihat ini adalah untuk melihat situasi sebagai strategi triple dip, di mana pelemahan awal (Dip) diikuti oleh retracement (Retr) dan kemudian melemahnya kedua. Perlu juga dicatat bahwa kita sudah melihat kelemahan mulai menunjukkan penurunan tajam dan bahwa Rupiah mungkin mulai melemah lebih tajam seiring berjalannya hari.

Rupiah Melemah Sangat Jauh Dalam Kategori Dolar AS Yang Membuat Khawatir

Saat ini, Rupiah sedikit melemah ke level Rp16.339 per Dolar AS. Singapura mungkin mengambil keuntungan dari mata uang lebih rendah untuk membuat mata uang mereka cenderung lebih tinggi. Dengan demikian, dolar yang tinggi dapat menyebabkan beberapa masalah bagi perekonomian Singapura dan Bank Sentral mungkin mencoba untuk menghindari pelemahan lebih lanjut.

Bank Central Singapura mungkin ingin mempertahankan nilai mata uang dengan harapan bahwa keuntungan di masa depan akan dinikmati karena upaya untuk mencegah depresiasi total. Perlu juga dicatat bahwa meskipun ada penguatan Rupiah, mata uang belum jatuh sejauh yang diharapkan, yang kemungkinan disebabkan oleh fundamental ekonomi yang lemah saat ini di Singapura.

Bank Central Singapura Butuh Waktu Lama Untuk Membenarkan Kerusakan Perekonomian

Bank Sentral Singapura mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membatalkan kerusakan yang disebabkan oleh devaluasi terbaru ini, tetapi pada akhirnya akan melakukannya. Dan, mengingat fakta bahwa Rupiah telah melemah, kita bisa mengharapkan depresiasi yang lebih cepat.

Mengingat fakta bahwa Bank Sentral Singapura mungkin ingin menghindari devaluasi lebih lanjut saat ini, ia mungkin memutuskan untuk menghentikan penurunan mata uang lebih lanjut. Dengan demikian, kemungkinan akan menunggu sampai mata uang mulai menguat kembali dan Bank Sentral Singapura dapat memanfaatkan kekuatan.

Sebagai negara yang perekonomiannya mengandalkan ekspor, Singapura menjadi negara pertama di Asia yang terkena imbas perlambatan ekonomi secara mantap global. Hal itu tercermin, dari pertumbuhan ekonomi dan ekspor yang lesu selama di suatu bulan terakhir.

Dalam laporan prediksi awal yang juga dirilis dini siang hari, perekonomian Singapura pada kuartal IIIĀ  berhasil menghindari resesi dengan tumbuh 0,6 persen secara kuartalan. Angka ini membaik dibandingkan kuartal II lalu di mana ekonomi Singapura merosot jauh yaitu 2,7 persen.

Sektor manufaktur yang menjadi pilar perekonomian Singapura juga merosot 3,5 persen, lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal sebelumnya yang sebesar persenan nya 3,3 persen.

BACA JUGA : Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Layak Dibeli

Bank Central Singapura Memutuskan Untuk Memperketat Kebijakan Moneter

Sementara itu, Bank Sentral Singapura dapat memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter karena dua alasan. Pertama, Bank Sentral Singapura dapat memutuskan untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakannya karena kemungkinan tidak akan ada apresiasi substansial dalam mata uang saat ini.

Kedua, Bank Sentral Singapura dapat memutuskan untuk memperketat kebijakannya karena tidak jelas apakah Bank Sentral Singapura akan berada dalam posisi untuk mendapatkan manfaat melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Sementara Bank Sentral Singapura mungkin ingin menghindari depresiasi mata uang yang besar, ia mungkin masih memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter sebagai cara mengelola ekonomi dan tidak ingin terperangah ketika mata uang pulih, menyebabkan Bank Sentral Bank Singapura kehilangan sebagian keuntungannya.